[An English translation of this article is needed. If you are able to assist please contact sievx.com]


DAERAH

NUSA TENGGARA TIMUR
Sindikat Imigran gelap
Gatra
17 September 2001

Agen penyeludup imigran gelap wilayah Kupang ditangkap. Jaringannya berskala internasional. Markasnya di Jakarta. Agen penyeludup imigran gelap wilayah Kupang ditangkap. Jaringannya berskala internasional. Markasnya di Jakarta.

OPERASI penyelundupan dirancang matang. Ahad dua pekan lalu, 46 imigran gelap asal Afghanistan dan Pakistan berhasil lolos dari "tahanan" Asrama Haji Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Padahal, mereka dijaga ketat aparat Direktorat Intelijen Kepolisian Daerah (Polda) NTT.

Para imigran itu lalu diboyong ke kota Soe, 110 km arah timur Kupang, dan diinapkan di rumah seorang wanita bernama Fatimah Gozali. Mereka akan dikirim ke Pulau Pasir, Australia, dari pantai selatan Kolbano. Sebuah kapal ikan telah disiapkan untuk mengangkut mereka.

Tiap orang dikutip US$ 300. Total operasi itu menelan biaya US$ 13.800. Pembayaran kolektif tahap pertama senilai Rp 60 juta akan diserahkan Selasa pekan lalu. Sisanya, dilunasi saat pemburu daratan Australia itu meninggalkan pantai Kolbano. Sial, operasi itu berantakan.

Dua tim Buru Sergap Polda NTT berhasil membongkar persembunyian im- igran gelap itu, sehari sebelum pembayaran dana tahap pertama. Mereka digiring kembali ke Asrama Haji. Saat diperiksa, mereka mengaku dilarikan Said Abdul Azis, 34 tahun, yang bekerja sama dengan beberapa oknum Polda. Fatimah Gozali ternyata mertua Said.

Senin itu juga, Said diringkus polisi di rumahnya, Kelurahan Oesapa, Kota Madya Kupang. Sejurus kemudian, enam orang anak buahnya ditang- kap. Lima anggota Polda yang bertugas menjaga Asrama Haji langsung diperiksa Provos Polda NTT. Said sudah lama dibidik polisi sebagai agen penyelundup imigran gelap ke Australia. Namun, baru kali ini diperoleh cukup bukti.

Pemeriksaan sementara polisi menyebutkan, nelayan kelahiran Papela, Pulau Rote, blasteran Arab-Rote itu sudah tiga tahun ini menjadi agen sindikat penyelundup imigran gelap ke Australia. Sekaligus anak buah sindikat berskala internasional yang bermarkas di Jakarta. Bos- nya berasal dari Timur Tengah. Said menjadi agen sindikat pertama yang ditangkap di Kupang.

"Tugas saya hanya mengaburkan imigran itu sampai Pantai Kolbano," kata Said pada wartawan. "Tugas membawa mereka ke Australia, termasuk mengurus kapal, ditangani agen lain yang ditunjuk bos di Jakarta," ujar pria yang mengaku punya anggota tujuh orang itu. Tentang jaringan agen lain di Kupang, suami dari enam wanita itu menyatakan tak tahu. Ia juga mengelak menyebutkan identitas bosn ya di Jakarta.

Wakil Kepala Polda NTT Komisaris Besar Polisi Gories Mere juga menolak menjelaskan agen internasional yang berkedudukan di Jakarta itu. Dikatakan, Polda NTT langsung mengirim petugas untuk koordinasi dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. "Tunggu saja hasilnya, pasti kami buka pada pers," kata Gories.

Seorang nelayan warga Pulau Rote, yang tak mau disebut namanya, mengaku kapalnya pernah disewa sindikat Said. "Sudah ribuan imigran gelap behasil diselundupkan jaringan Said lewat Pulau Pasir. Wajar saja, mereka dibantu anggota polisi," kata nelayan itu. Jaringan tersebut biasa menyewa kapal di Pulau Rote dengan harga mahal. Selain biaya sewa, mereka juga menambahi uang seharga kapal itu. Tarif sewa sekali berlayar Rp 50 juta. Harga kapal tergantung kondisinya. "Punya saya dulu dihargai Rp 75 juta," kata sumber Gatra.

Wajar ada tambahan harga kapal, karena pelayarannya berisiko. Kalau lagi apes, ditangkap aparat Australia, kapalnya bisa dibakar. Cuma, kalau lancar, pemilik kapal bisa untung dobel. Sudah dapat ongkos sewa, ditambah uang senilai harga kapal. Lumayan, bisa beli kapal satu lagi.

Asrori S. Karni, dan Antonius Un Taolin (Kupang)

X-URL:http://www.gatra.com/2001-09-17/majalah/artikel.php?pil=23&id=42244

Back to sievx.com